BERBAGI ILMU AL-HIKMAH

Jangan Biarkan Dirimu Lalai Dari Wirid Dan Zikir

Isi Ceramah

Mulailah sesuatu dgn Bismilah

Do’a dan ketergantungan Diri

Saudaraku, kita merupakan makhluk yang didatangi silih berganti permasalahan, dari yang terkecil hingga katanya,” yang terbesar,”. Sebagian kita menganggap permasalahan merupakan ujian, dan sebagian lainnya berpendapat masalah adalah kesuksesan yang terselebung, bahkan seseorang menilai permasalahan atau problem tersebut adalah bagian kemurkaan  Allah SWT, disebabkan dosa serta kesalahan masa lalu.

Saudaraku, lepas dari semua pendapat diatas, diakui kita ini adalah makhluk yang selalu mengedepankan ,”kepintaran dan kekuatan,” diri sendiri, bahkan kita lebih sering mengandalkan diri dan materi untuk menantang segala problem. Tidak jarang Tuhan menjadi pelengkap ibadah, serta ,” dipakai,” hanya diposisi yang amat terdesak dalam permasalahan tersebut.

Saudaraku, inilah akibat bila kebesaran Allah SWT cuma sebatas bibir dan lidah, keagungan Tuhan hanya menjadi sekedar bahan mentah dalam dzikir, sehingga tak jarang diantara kita menjadikan Allah SWT sebagai pelarian terakhir dari problem-problem kita.

Saudaraku, Allah SWT bukanlah senjata terakhir dalam setiap problem hidupmu. Jadikanlah DIA sebagai Zat pertama yang wajib engkau datangi bila ditimpa masalah, karena sesungguhnya Allah SWT memandang kehambaan diri kita kepadaNya melalui seberapa sering dan utamanya kita mengadu dan meminta kepada DIA. Ketergantungan seperti ini yang akan bertransformasi menjadi sebuah senjata mutakhir menciptakan kejutan-kejutan cerita indah di belakang permasalahanmu.

Saudaraku, do’a janganlah menjadi hal terakhir dalam setiap problemmu. Jadikanlah do’a sebagai hal yang pertama dilakukan bila ketemu permasalahan, sebesar atau sekecil apa saja  permasalahan tersebut, sekalipun  matamu hanya kelilipan debu dijalanan ! Wahai saudara, Inilah kesempatan untuk membuktikan ketergantunganmu yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT, semakin sering engkau berdo’a maka semakin muncul rasa kebutuhanmu terhadap Allah SWT, kebutuhan tersebut akan melahirkan bathin yang selalu rapat dan hanya bergantung kepadaNya. Niscaya akan merubah keluh kesahmu menjadi sekulum senyum manis bibirmu, malah suatu ketika  engkau pasti akan berterima kasih kepada setiap problem yang pernah datang kepadamu.

Saudaraku, bila engkau masih percaya akan kebesaran dan keagungan Allah SWT, mari kedepankan Allah disetiap do’amu dalam usaha penyelesaian problem dunia ini. Yakinlah, Tuhanmu kelak akan meletakkan segala problem dibelakang keluh kesahmu, bahkan  kata ,” susah, sakit dan derita” hilang dari kamus bahasa jiwamu.

Berdo’alah…!,Ya Allah…Ya Rabbi.., Bimbinglah kelemahan kami kepada kekuatanMu, dan bimbinglah kebodohan kami kepada pengetahuanMu, dan jadikanlah permasalahan kami merupakan anak tangga menuju pintu pemahaman akan kebesaran dan keagunganMu, dan jadikanlah permasalahan adalah kesempatan  kami untuk lebih merapat kepada diriMu, hingga keluh kesah kami hilang dalam  daya tarik cintaMu Wahai yang Zat Maha Suci…Al fatiha !

___ Dibalik NamaNya ___

Tuhan merupakan kata yang mewakili kekuasaan yang Maha tak terbatas, tidak satupun kekuatan dan kekuasaan yang diluar kendaliNya. Ketika kita telah menyatakan TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, maka Allah telah menjadi Nama yang kita yakini sebagai satu-satunya Tuhan di dunia, selainNya adalah abdi atau hamba.

Saudaraku, sejauh manakah kita dapat menjadikan kata,”Allah,” tersebut mewakili rasa dan perasaan akan kenyataan ke-TuhananNya. Tidak jarang diantara kita yang menyebut,” Allah,” sekedar sebatas nama, tanpa merasakan apapun dibalik nama tersebut. Padahal amat penting bagi kita untuk memahami Kebesaran dan Keagungan Allah SWT dalam setiap penyebutanNya.

Seseorang yang menyebut SBY saja, maka akan terbayang bagi dia segala pangkat dan jabatannya sebagai Presiden Republik ini. Sungguh kerdil diri kita, yang menyebut,” Allah SWT,” tanpa sedikitpun bergetar hati dengan rasa akan segala UNLIMITED POWER-Nya. Nama bukan saja mewakili identitas diri, tapi juga mewakili sebuah kepemilikan dan kekuasaan atas sesuatu yang dimiliki dari sesosok yang bernama tersebut.

Saudaraku, ketika pedang Datsur menempel dileher Baginda Rasulullah SAW, beliau ditanya,” Siapakah yang sanggup pada hari ini menolong engkau ya Muhammad..,” Baginda dengan tegas menjawab,” Allah..!,”.Pedang terjatuh, kedua kaki dan hatinya Datsur tersungkur dalam kalimah syahadat. Inilah gambaran yang luar biasa dari implementasi rasa hati Baginda Rasulullah SAW terhadap kebesaran dan keagungan Tuhan dalam nama,” Allah ,”

Saudaraku, diantara kita masih banyak yang,” membatasi ,” kekuasaan Allah SWT dalam caranya berfikir terhadap penafsiran makna ke-Tuhanan. Kita merasa cukup puas dengan menyebut nama tanpa memahami sepenuhnya kebesaran nama tersebut. Kenyataannya, hari ini tak terhitung umat yang haus akan pengetahuan tentang Tuhan dan berlomba-lomba mencari jalan yang terdekat untuk sampai kepada Allah SWT. Bahkan yang paling menyedihkan kehausan mereka akan Allah SWT dimanfaatkan oleh segelintir orang-orang  serakah yang berkedok agama.

Saudaraku, sebutlah nama Tuhanmu,” Allah..,” dengan mata hati yang terbuka merasakan kenyataan Allah SWT melebihi dari kenyataan apapun termasuk dirimu , dan rasakanlah ke-Maha-anNya  didalam segala sesuatu, dengan menghidupkan rasa kehambaan penuh kebudakkan dihadapan Allah SWT. Serta mendominasikan ketidak berdayaan diri disetiap kata dan perbuatan didepan ketentuanNya. Jadikanlah hatimu tempat lewat pendengaran dan penglihatan, bahkan kata-katamu sendiri harus melewati hati sebelum ia keluar dari mulutmu.

Akhirnya, sebutlah,” Ya…Allah, Ya…Rabbi, cukuplah Engkau bagiku, hanya Engkau jaminan HidupKu dan biarkanlah aku meneguk pengetahuan akan kebesaran serta kenyataanMu melebihi dari segala pemahaman atas diriku sendiri. Dan ajarkanlah aku menyebut NamaMu sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki atasnya, dan larutkanlah pemahamanan ke-Tuhananmu atas diriku didalam setiap namaMu yang kusebut…Allah.

___ Memiliki diriNya ___

Manusia terlahir dengan  mempunyai keinginan untuk memiliki, dari yang termudah hingga yang tersulit untuk dijangkau. Keinginan yang tercapai bukannya berhenti, malah menimbulkan berbagai keinginan. Dalam pandangan Allah SWT, hamba yang dipenuhi keinginan-keinginan materi semata, merupakan hamba yang  menjadikan dirinya terlantar ,” miskin,” yang sebenarnya.

Saudaraku, Allah SWT tidak pernah melarang untuk berkeinginan dan memiliki sesuatu yang ada didunia ini, kecuali cara dan sesuatu tersebut berasal dari hal yang haram. Dan tidak satupun dalam sejarah Nabi dan Rasulullah anti terhadap “keinginan” untuk memiliki dunia ini.

Namun disayangkan, rasa kepemilikan terhadap dunia ini lebih mendominasi hati kita daripada rasa memiliki Tuhan. Sadar atau disadari, Allah SWT merupakan Zat mutlak yang berhak atas kepemilikan diri kita, sebaliknya diri kita  mesti hidup dalam merasakan memiliki Allah SWT, sebagai satu-satunya Zat Tuhan di jagad raya ini.

Saudaraku, hamba yang menghidupkan rasa memiliki Allah SWT, adalah hamba yang paling tenang dan nyaman menikmati kehidupan ini. Tidak satupun ketakutan dan kekuatiran yang tumbuh dalam hatinya, karena segala sesuatu yang datang dan pergi dari dirinya tidak dapat mengalahkan perasaan,” Aku masih memiliki Allah SWT,” untung dan rugi, sakit dan senang tidak mempengaruhi apalagi mengurangi ,”Kekayaan hatinya tersebut,”

Akuilah, memiliki apapun didunia ini mesti akan habis dan punah, seberapapun banyaknya yang kita simpan. Hanya satu,” Harta,” yang tak pernah habis dan punah, yakni Allah SWT. Maka segeralah kayakan hatimu dengan rasa yang memiliki Allah SWT. Dan percayalah, tak satupun harta didunia ini yang membuat dirimu sakit dan kecewa.

Saudaraku, mari tumbuh dan besarkan hati yang merasa memiliki Allah SWT, melebihi dari rasa kepemilikan materi, hingga kelapangan hatimu tak terbatas, membuat wajahmu selalu tersenyum dan tindakanmu selalu bijak dihadapan manusia. Dan sungguh hamba yang paling kaya dihadapan Allah SWT adalah hamba yang hatinya selalu merasa dimiliki dan memiliki Allah SWT.

Hanya hati yang merasa dimiliki dan memiliki Allah SWT saja yang tak pernah bergeming dengan kerugian dan kesakitan atas kehilangan segala materi didunia ini. Dan sesungguhnya, sia-sialah rukuk dan sujud si hamba, jika sekedar melahirkan penyembahan semata, tanpa menimbulkan rasa memiliki Tuhan. Padahal tujuan utama dari suatu penyembahan adalah melatih jiwa hidup dengan hati yang selalu dimiliki dan memiliki Tuhan.

Maka menjadi  suatu prestasi yang patut disyukuri, bila seorang hamba telah mendominasikan rasa memiliki Allah SWT didalam dirinya, dengan melalui itulah ia akan menjadi hamba yang sebenarnya disisi Allah SWT.

Berdo’alah,” Ya…Allah…Ya…Rabbi..,jadikanlah kami hamba-hamba yang memiliki hati yang selalu terjaga dalam rasa dimiliki dan memilikiMu, dan peliharalah kami dari rasa kepemilikan terhadap selain dirimu, dan jadikanlah hati kami singgasana rasa,  merasai akan diriMu sajalah milik kami yang sejati…Allah.

___ Beserta diriNya ___

Bismillahirahmanirahim…, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Kalimat ini sering kita ucapkan, paling tidak sebelum makan dan minum. Terlepas apakah itu sekedar kebiasaan ataupun memang hanya sebagai penambah nikmat untuk makan dan minum, kita adalah makhluk yang selalu lupa untuk menyadari kebersamaan denganNya. Dan kita telah mengetahui, basmalah adalah kalimat yang mesti kita ucapkan dalam setiap tindakan dan perbuatan. Namun hingga hari ini, sejauh mana hati kita menyertakan Allah SWT dalam penyebutan kalimat tersebut ?, apakah hanya sebatas “Garis start” untuk memulai segala tindakan ? atau menjadikan kalimah Basmalah sebagai kalimah “ Sakti “ untuk mendongkrak sugesti dan keyakinan dalam berbuat dan memutuskan ?

Saudaraku, penyebutan Basmalah merupakan awal bagi diri seorang hamba untuk menyadari, bahwasanya Allah SWT selalu dekat, mengetahui dan memahami apa-apa yang dikerjakannya. Kalimat tersebut adalah sandaran hatinya, untuk menjadikan Tuhannya sebagai pendamping yang paling dekat dalam segala perbuatannya.

Sertakanlah Allah SWT disetiap gerak gerikmu, dan jadikanlah basmalah sebagai pembuka hatimu akan kenyataan Allah SWT bersamamu. Jika gerak dan perbuatan sangat dekat dengan dirimu, maka kebersamaan Allah SWT pasti amat dekat lagi dengan dirimu. Jadikanlah kebersamaan dengan Allah SWT lebih mendahului segala gerak dan perbuataanmu, niscaya engkau akan diselamatkan Allah SWT dari segala gerak dan perbuatan sesuatu yang akan mencelakaimu.

Saudaraku, hamba yang mengucapkan Basmalah, adalah hamba yang telah menjadikan Allah SWT tujuan dari segala tujuan, karena kalimah tersebut bukan sekedar mengajarkan hati untuk selalu ingat kepadaNya, melainkan juga untuk mengembalikan kesadaran hati hamba “ darimana ia bermula dan akan kemana ia berakhir”. Dan pastinya, seseorang yang sadar dengan itu, ia akan menjaga sikap dan perbutaannya dalam mencapai segala hal di dunia ini.

Saudaraku, jadikanlah Basmalah adalah kalimah yang pertama sekali engkau ucapkan sebelum kalimah lain, dan jadikanlah basmalah kalimah yang hidup dalam setiap gerak dan gerikmu dengan merasai Allah SWT amat dekat, melebihi kedekatan perbuatanmu dengan dirimu sendiri.

Sesungguhnya hamba-hamba yang menjadikan Basmalah sebagai pemicu hatinya untuk merasakan Allah SWT sebagai Zat paling dekat dengan dirinya, maka hamba tersebut telah meletakkan dirinya kedalam tangan Allah SWT, sehingga energy dan kekuatan yang diucapkan dan apa-apa yang diperbuatnya adalah berasal daripada Allah SWT sendiri.

Dan memintalah,” Ya…Allah..Ya Rabbi, jadikanlah diri kami hamba-hamba yang membuat dirimu senang dan ridho kepada kami, dan ajarkan kepada hati kami segala pengetahuan yang membuat kami takjub terhadap diriMu, dan bimbinglah kami kepada gerak dan gerik yang selalu mendahului keinginanMu daripada keinginan hawa nafsu kami, dan bentuklah diri dan jiwa kami dengan tanganMu dan tarbiyahMu, agar kami hidup dalam segala keinginanMU..Ya Allah.

___ Kedekatan yang mengasyikan ___

Sesungguhnya kedekatan Allah SWT tidak dapat diukur dengan alat apapun didunia ini, bahkan kata “ Dekat” itu sendiri tak dapat mengungkap arti kedekatan sebenarnya. DekatNya Allah SWT terhadap hambaNya adalah kedekatan yang tidak berjarak dan tidak berperantara, hingga tiada sesuatu didunia ini yang menandingi keindahan dari kedekatanNya tersebut.

Saudaraku, KedekatanNya tak dapat didektesi dengan mata dan akalmu, ia dapat disentuh dengan hati yang “ hidup “ dengan rasa yang asyik bersamaNya. Hanya hati yang asyik adalah hati yang telah menemukan wajah dirinya, yakni melepaskan segala ketergantungan kecuali kepada Allah SWT. Sebab, ketergantungan kepadaNya merupakan sifat dasar yang wajib dimiliki hati hamba.

Mari selaraskan gerakkan  jiwa dan ragamu dengan gerakkan hati yang bergantung hanya kepada Allah SWT, agar segala tindakan dan perbuatan kita selalu bersentuhan dengan keridhoanNya. Jadikanlah dirimu menikmati segala permasalahan dengan hati yang asyik bersamaNya. Hati yang telah ”asyik” selalu dapat menerima segala kemungkinan yang terburuk didunia ini.

Saudaraku, jadikanlah hatimu bersih dan suci dari segala harapan, kecuali berharap hanya kepada Zat Allah SWT. Seseorang hamba yang telah mengembalikan hatinya hanya berharap dan bergantung kepada Tuhannya, maka sekali lagi dipastikan dia akan menikmati segala hal yang datang, sebab ia telah asyik menyaksikan wajah Allah SWT dibalik setiap yang datang dan yang pergi dari dirinya.

Saudaraku, sesungguhnya Allah SWT tidak pernah menyembunyikan diriNya daripada kita, DIA setiap saat selalu memberi isyarat akan kehadiranNya dekat dengan diri kita. Namun, lantaran hati kita masih dipenuhi dengan berharap kepada yang lain, hingga  isyaratNya yang begitu jelas dan nyata tidak “terbaca” didepan kita.

Berdo’alah,” Ya..Allah..,Ya..Rabbi, jadikanlah kami hamba yang selalu bergantung kepadaMu, hingga hati kami asyik dalam kedekatanMu, dan peliharalah hati kami dengan rasa rindu kepadaMu, dan dampingilah setiap niat dan usaha kami dengan berharap dan bercita-cita kepadaMu, serta sadarkanlah kami, bahwasanya Engkaulah satu satunya Zat yang paling dekat, hingga kedekatanMu melebihi dari apa apa yang dirasa oleh hati kami sendiri..Ya Allah…hanya Engkaulah yang mengasyikan hati hambaMu..

___ Terbangun dalam bermimpi ___

Setiap hamba di dunia akan mengakui segala keterbatasan dan kelemahan dirinya, paling tidak jika ia telah bertemu jalan “buntu” dunia ini. Segala sesuatu yang dibanggakannya tidak berkutik lagi ketika berhadapan dengan dinding takdir, dan segala yang diburu karena “nilai dan harga” akan menjadi barang rongsokan yang tidak menggigit lagi. Begitu mudah bagi Allah SWT untuk mempertontonkan kebesaranNya, hingga sesuatu yang didewakan, dalam hitungan menit menjadi barang tak ada arti.

Saudaraku, bagi Allah SWT hanyalah kita sesuatu yang berharga dihadapanNya, bahkan segala sesuatu yang diciptakan merupakan fasilitas  kenyamanan  untuk kita dalam kehidupan ini. Tidak sebutir debupun yang Allah SWT ciptakan yang tidak bermanfaat bagi kita, dan tidak satupun ciptaanNya menjadi sia-sia tak ada manfaat bagi manusia.

Suatu hal aneh sebenarnya, bila kita mau berfikir, kenapa matahari sebegitu besar berada pada posisi dan jaraknya yang tepat untuk menerangi bumi. Dan mengapa bumi yang hanya satu diantara jutaan bintang, yang memiliki komposisi tepat untuk dapat dihuni makhluk hidup, hingga udaranya pun memiliki kadar oksigen yang tepat untuk dihirupi. Begitu rapi dan indah kerja “ tanganNya”.

Saudaraku, semua yang ada, semua yang duduk pada posisinya dan semua yang bergerak pada garisnya masing-masing, hanya memiliki pada satu tujuan, seakan-akan dari partikel-partikel yang terkecil hingga matahari yang terbesar tertuju “matanya” kepada satu makhluk, yakni kita.

Saudaraku, Kita adalah destinasi bagi alam semesta ini, dan Allah SWT merupakan destinasi diri kita, segala sesuatu datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Tidakkah hidup, mati dan ibadah kita untuk Allah SWT, namun bukan berarti Allah SWT butuh eksistensi hambaNya, malah sebaliknya hamba selalu butuh Allah SWT, hingga ia haus untuk merasakan eksistensi Allah, walau hanya dalam rasa. Karena kepuasan hati tak akan pernah ada bila tak bersentuhan dengan Tuhannya. Dan jika kepuasan hati hilang dari dada si hamba, maka bersiaplah ia terbangun daripada dunia ini, lalu menjalani kenyataan yang lebih buruk dari segala mimpi terburuknya.

Saudaraku, waktu serta perangkat dunia yang Allah SWT sediakan, bukan alat pijat pelepas lelah atau mainan untuk membuai jiwa kita, tapi hadir sebagai perangkat atau program latihan diri, menempa hati dan jiwa menjadi “dewasa” dihadapan Allah SWT. Berfikir tidak sebatas materi, tapi jauh menjangkau waktu dan ruang, serta hidupkan kesadaran sejati dengan merubah wajah dunia ini menjadi sekedar mimpi dan bunga tidur, yang kelak Tuhan akan bangunkan kita di Alam “yang sebenarnya” bersama DiriNya.

Ya Allah…Ya Rahman..Ya Rahim..,peliharalah kami dalam tatapanMu, dan dekatkan kami kepada apa-apa yang Engkau cintai, serta dampingilah kami dengan hikmah-hikmah pengetahuanMu, agar kami menjadi orang-orang yang tersadar sebelum kami terbangun dalam mimpi yang Engkau ciptakan ini…Ya Allah wahai Zat yang Maha Tinggi.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 100 pengikut lainnya.